UMKM, Roadmap, dan MEA

Pelaku Usaha Kecil dan Menengah (UKM) dan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM)  Jawa Timur khususnya yang bergerak di sektor makanan dan minuman harus mempersiapkan diri menghadapiAsean Economic Community (AEC) atau Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015. Sektor ini begitu diperhatikan pemerintah karena terbukti mampu membantu mengurangi pengangguran dan menambah pendapatan negara.

Jawa Timur selama ini terkenal sebagai gudangnya industri produk makanan dan minuman terbesar di Indonesia. Produk industri makanan dan minuman Jawa Timur, sebenarnya sudah lama memembus pasar ASEAN seperti di Malaysia, Singapura, Thailand, Vietnam, Kamboja, Brunai, Myanmar dan Timur Leste.

Bahkan juga sudah menembus pasar AFTA: Cina, Taiwan, Jepang, Korea Selatan, dan Hongkong. Melalui MEA, Jawa Timur harusnya lebih bisa berharap mendorong omzet penjualan makanan dan minuman di pasar ASEAN.

Makanan dan minuman yang beredar dan dijual di pasar-pasar tradisional dan pertokoan di Jawa Timur saat ini sebagai besar adalah produk-produk lokal. Seperti permen, enting-enting jahe, jelly, aneka keripik, aneka jenang dan yang paling diminati masyarakat adalah roti biscuit serta roti marie dan munuman kemasan sachet. Produk-produk yang sudah berada di tengah masyarakat itu tinggal dipercantik kemasannya dan kualitasnya.

Konsekuensi MEA juga akan masuk makanan dan minuman impor. Masyarakat bisa memilih mana produk-produk makanan dan minuman yang berkualitas yang sudah ber lebel ML dari BP POM. Selain itu, barang dan jasa juga akan bebas keluar masuk.

Perdagangan antarAsean sendiri diperkirakan mencapai 25 persen. Sedangkan di Indonesia, sekitar 90 persen industri makanan dan minuman adalah berskala kecil menengah, tetapi outputnya berkontribusi 15 persen.

Sekitar  650 produsen makanan dan minuman  dari 700 ribu UKM dan UMKM yang ada di Jatim didukung oleh para pekerja di bidangnya sehingga mampu meningkatkan kualitas produksinya.

Hal terpenting dalam memasuki pasar Asean, masyarakat Indonesia harus semakin mencintai produk dalam negeri. Tak hanya cinta tetapi juga membeli, memakai dan mengkonsumsi produk buah karya bangsa sendiri.

Kita harus yakin pelaku usaha makanan dan minuman akan siap dalam menghadapi era pasar bebas. Namun pemerintah harus memberikan pendampingan dengan membuat roadmaplebih dulu, berupa rencana strategis yang menjelaskan tahapan yang perlu dilakukan dalam mencapai tujuan.

Pemerintah, juga harus melakukan sensus UKM dan UMKM, karena sensus terakhir dilakukan pada tahun 2008. Sekarang sudah 2014, tentu jumlahnya berubah. Harus ada data yang realistis, soalnya sekarang ini banyak UKM dan UMKM banyak yang hilang atau tidak bisa bertahan. Bahkan ada yang produksinya tidak menentu.

Terdapat beberapa faktor yang membuat UMKM sulit menghadapi MEA, adalah ketidakjelasanroadmap, rendahnya kualitas UMKM, terbatasnya akses pasar dan fasilitas. Selain itu, posisi tawar UMKM terhadap peritel modern cenderung rendah, terbatasnya akses finansial, kenaikan upah buruh, hingga aksesibilitas terhadap modal.

Sebab itu harus dilakukan koordinasi antar kementerian untuk menyepakati roadmappengembangan UMKM, mengintegerasi sentra UMKM di daerah dengan tujuan nasional, memberikan kemudahan persyaratan izin usaha, subsidi bahan baku, dan memiliki prioritas per sektor, dan aktif melakukan sosialisasi kepada UMKM.

Mencari Jawab Agar Petani Tak Lagi Terjerat Pupuk Kimia

Kementerian Pertanian menggagas teknologi nano-nano. Ini teknologi terbarukan, efektif dan efisien untuk meningkatkan produksi. Kehebatan lainnya, teknologi ini ramah lingkungan. Di tengah petani yang sudah terjerat pupuk kimia, memang teknologi nano adalah jawaban.

Namun nano yang kecil ini tidak seperti bukunya FE Sumacher, pakar lingkungan yang karyanya pernah best seller di Indonesia, The Small Is Beautiful. Nano yang ini ruwet dan njelimet. Itu karena realitas yang ada, pupuk dan distribusi untuk produk pertanian di negara ini tidak pernah sepi dari masalah.

Pupuk membanjir di kala tidak dibutuhkan. Pupuk menghilang saat petani membutuhkan. Selain irigasi yang semakin amburadul, penyuluh pertanian yang sudah jarang berada di sawah bersama petani, ditambah Koperasi Unit Desa (KUD) yang kini profit oriented, yang penting untung, adalah seabreg masalah yang seharusnya tidak bermasalah.

Banyaknya masalah itu membuat wacana penerapan teknologi nano-nano ke depan dipenuhi curiga dan syak-wasangka. Teknologi nano-nano dianggap sebagai liberalisasi pertanian yang berorinetasi bisnis yang akan dimenangkan perusahaan raksasa. Asingisasi yang menciptakan ketergantungan lagi pada asing, selain tentu, akan tersengal-sengal dalam pendistribusian ke sentra yang membutuhkan (petani).

Pesimisme itu tak berlebihan. Sebab sejauh ini petani selalu ditempatkan sebagai obyek penderita. Dari pola tanam organik dipaksa memasuki ranah pupuk kimia yang mengeraskan tanah kehilangan hara saat Orde Baru. Terus berlanjut pada orde-orde berikutnya, menyebabkan petani bukan lagi profesi yang menyenangkan, dan pertanian kehilangan prospektifitasnya.

Berbagai sebab itulah yang mengakibatkan petani kehilangan generasi penerusnya. Kini tidak ada anak muda yang bercita-cita sebagai petani. Mereka lebih suka jadi buruh pabrik daripada bertani. Itu karena bertani selain tidak punya masa depan, bertani juga tidak menguntungkan. Cukup untuk beli sarana produksi (saprotan) dan sedikit untuk makan sudah bersyukur. Tak sedikit petani yang justru merugi dari hasil pertaniannya.

Subsidi yang digembar-gemborkan pemerintah tak jelas larinya kemana. Alokasi anggaran yang kecil di APBN kian mengecilkan tetesan untuk kebutuhan petani. Subsidi itu banyak yang diselewengkan, dipat-gulipatkan realisasinya, sisi lain para pemimpin negeri ini berteriak-teriak penuh optimisme, bahwa dia sudah berbuat banyak untuk petani, untuk kemakmuran dan kesejahteraan mereka, dengan pemampangan data, yang entah diambil dari mana.

Era baru globalisasi kian menjepit petani. Di dalam negeri yang dijajah oknum pemerintahnya belum terbenahi, kini mereka harus bersaing secara global. Di berbagai negara petani mendapat subsidi besar sehingga mendapatkan keberlimpahan dan ekspor, di Indonesia petaninya masih diperlakukan sama, dijepit kiri-kanan tanpa perlindungan.

Malah yang tragis, regulasi yang dihasilkan rakyat juga tidak berpihak pada rakyat. Banyak aturan itu justru menista rakyat. Lihat yang dialami Sukoco, petani dari Gampengrejo, Kediri, yang terpenjara tujuh bulan hanya karena dia kreatif, melakukan pemuliaan tanaman jagung.

Kenapa bisa begitu? Itu karena UU itu lahir juga tanpa transaksional. Ada sponsor yang bertindak sebagai pengawal. Mereka telah punya skenario gelap akan hadirnya UU baru. Dan jika UU itu lahir, maka hakekatnya UU itu bukan untuk kebaikan rakyat, tetapi untuk kebaikan para cukong, pebisnis, yang jauh-jauh hari telah melakukan ‘investasi’.

Bobroknya berbagai sektor itu yang menyebabkan berbiaknya negatif thinking menyambut wacana kehadiran teknologi nano yang sedang digagas.  Rasionalisasinya, yang sederhana-sederhana saja tidak bisa dikerjakan, apalagi yang sulit dan rumit, belum teruji dan belum disosialisasikan pada petani yang sudah terlanjur curiga dengan berbagai program pemerintah.

Teknologi nano mungkin baik. Namun adakah baik jika kebaikan itu hanya sekadar untuk dibicarakan dan tidak bisa diaplikasikan karena tidak terdistribusi akibat mental aparatnya? Ini belum kalau embrio teknologi nano ini bermotif bisnis. Djoko Su’ud Sukahar

Ini Negara Bukan Komik Dunia Maya

Rakyat berharap Jokowi adalah harapan. Itu ketika di masa SBY impor menggila menstimulasi hedonisme. Loba dan royal. Lupa, bahwa kehidupan yang dijalani berada di tebing lumpur. Bisa ambruk dalam sekejap, kehidupan bangsa dan negara hancur lebur.

Harapan rakyat semakin melambung, tatkala laut direpresentasikan dalam dua kementerian. Kelautan dan maritim. Yang satu berorientasi bisnis. Yang kedua bersifat politis. Ini mengingatkan kita pada lepasnya Pulau Ligitan dan Sipadan yang menyakitkan dari pangkuan Ibu Pertiwi.

Menteri yang ditunjuk untuk menggawangi sektor ini juga mumpuni. Kendati nama yang dimunculkan jauh dari ekspektasi banyak kalangan, tetapi itu pas. Susi yang bergaya cowboy cocok menempati posisi itu. Juga Indroyono Susilo yang putra almarhum Soesilo Soedarman, Menteri Pariwisata di era Orba.

Di pertanian muncul nama Amran Sulaiman. Bisnisman di produk insektisida, diharap mampu ‘meracuni’ tikus-tikus di kementerian ini, yang ‘ngrikiti’ benih, distribusi pupuk, kehancuran irigasi, sampai penyuluh pertanian yang sudah metamorfosis menjadi sales marketingsaprotan asing.

Namun harapan tinggallah harapan. Pertanian berjalan biasa-biasa saja. Hanya traktor baru untuk sebagian kecil sawah. Baru sebagian irigasi tergarap dari dana besar yang digelontorkan. Dan dimana-mana rakyat petani masih kelu dengan panen yang tak seseru dulu. Juga harga gabah yang terkesan tanpa proteksi. Subsidi.

Maka alih-lahan adalah konsekuensi logis. Bertani bukan pekerjaan. Itu hanya hobi.Klangenan. Sebagai nostalgia untuk melihat ledung padi menari ditiup angin. Merenungi nasib yang tak kunjung berubah. Memimpikan impian indah sambil bertanya kapan sejahtera dan kebahagiaan negeri agraris bisa menjadi nyata. Itu bagi yang sudah berusia senja.

Bagi yang muda? Bertani itu jangkrikan. Sektor yang menyebalkan. Tidak menguntungkan, tidak prestisius, dan simbol ‘kebodohan’. Bodoh? Ya, bagaimana tidak bodoh jika bekerja kokmerugi. Menanam padi kok tetap produksinya rendah di tengah pertambahan penduduk dunia miliaran dan maraknya teknologi GMO diterapkan di berbagai belahan dunia.

Di tengah situasi seperti itu, tiba-tiba menteri pertanian justru yakin semua produk pertanian dalam waktu dekat akan swasembada. Beras yang rutin impor akan teratasi. Kedelai yang tergantung Amerika bakal tercukupi dalam negeri. Jagung gampang dibeli. Persis seperti impian Zaman Kalasuba yang tersurat dalam banyak babad dan Jangka Jayabaya.

Itu di sektor pertanian. Forgetted. Bagaimana dengan perdagangan? Sektor ini ternyata tidak kalah megalomanianya. Ekspor negeri ini, katanya, akan melonjak drastis hingga 300%. Data itu dipampang dan dianalisis. Simpulan pun didapat begitu dari strategi yang disebutnya khusus itu.

Siapa sih menterinya? Rahmad Gobel yang menempati posisi puncak di kementerian ini. Saat dipilih Jokowi, nama belakang dari tokoh ini yang memberi sugesti rakyat, bahwa Jokowi tidak salah pilih. Dia kapabel di bidangnya. Dia moncer, dan semoga membawa kemonceran sektor ini.

Tapi harapan itu kembali layu sebelum laju. Gula yang mekanisasinya bak gurita itu disebutnya bakal swasembada. Tapi di saat yang hampir sama, dia kunjungi pabrik gula yang ‘bermasalah’. Dan gula mentah (raw sugar) impor yang katanya distop itu dibuka-tutup juga.

Janji yang membuat rakyat bingung mencerna itu ternyata bukan joke. Sebab ada lagi pernyataannya yang membuat rakyat memegang jidat saking tidak percaya dengan yang didengar. Itu adalah soal ekspor negeri ini yang disebutnya bakal naik 300%. Wah!

Memang pepatah bilang, gantungkan cita-citamu setinggi bintang. Itu tidak dilarang. Memang bermimpilah indah agar hidup tetap ceriah. Mimpi juga bebas dari pemidanaan. Tapi sebagai pejabat publik, janganlah cita-cita dan impian dipakai sebagai statement. Sebab itu akad. Janji.

Terus bagaimana kalau para menterinya ternyata adalah para pemimpi? Mudah-mudahan kita tidak terbuai dalam impian yang jauh dari kenyataan. Sebab ini negara, bukan komik dunia maya. Butuh pembuktian, tidak butuh pernyataan yang berbusa-busa. Djoko Su’ud Sukahar/Pemimpin Redaksi Agrofarm